Rindu adalah perjalanan tertunda, terentang sebagai kesatuan harapan dan keterpisahan. Di matamu, ingin kuberhenti. Seketika?? Bukan. Rindu bermula dari serpih getar untuk saling berharap: kita bertemu di satu titik penyatuan. Semuanya tertulis jelas di air mukaku; rindu ini mengurai segala tentangmu. Kapan pun, di mana pun. Kamu memenuhi detikku..
Setelah lelah menghasut payah hari ini, apalagi yang kubutuhkan selain tempat untuk menyandarkan diri, sejenak saja. Kepada bahumukah itu? Iya, yakinku.
Dalam rentang jarak, hanya hati kita yang masih bisa saling menyapa, saling mendoakan, " Aku selalu merindukanmu, sayangku," bisik hatiku lirih kepadamu, "semoga kamu pun begitu."
Kala gelisah menjamu ketermanguan, beginilah cinta kueja dalam kata:
"LELAH, AKHIRNYA HANYA ADA GETAR LEMAH YANG TERSISA. SETERUSNYA, KATA - KATA TAK BERWUJUD SAPA. AKU HANYA BISA MENERIMA JIKA INI MEMANG SEHARUSNYA."
Dan beginilah cinta kujamu dalam doa, ketika hati menyapa ruang hampa dan mencari sandarannya:
" TUHAN, TEMANIKU DALAM GELISAH INI. ITU SAJA."
Tak pernah ada kata sia-sia untuk sebuah doa. Setitik terang terpendar, di keesokan harinya. Kurajut lagi cinta dalam rona senum yang menepikan praduga:
"MENDEKAP SIANG, MENIMANG MALAM. JALANI LAGI, GETAR YANG SEMPAT MENGENDUS RAGU DALAM LAJUNYA."
Bertahan dalam diam. Membiarkan rindu itu memungut indah dalam kesakitannya. Aku rela
Dalam sadarku, telah kusunting luka. Dalam takutku, berlariku menjauh darimu. Dalam lukaku, ada rindu yang tak padam - untukmu juga.
Lebih karena mencinta adalah karunia, aku pun memutuskan untuk tidak mengacuhkan seribu tanya mengapa kemudian memiihmu.
Toh tak ada jawaban yang tepat untuk setia langkah kakiku yang merindu pulang menuju dirimu. Juga tak ada alasan pasti mengapa aku selalu ingin rebah manja di dadamu.
Sudah lama aku berhenti bertanya, berhenti menjawab. Karena itu semua hanya akan membuatku meragu.
Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarkan rasa yang bicara dari kedalamannya, detik ini. Masih. Rindu ini, untukmu.
Masuklah dalam badai. Setidaknya kita bisa bersama - meski segalanya serba tak pasti. bergelombang dalam pusaran cinta - tak bertepian.
Boleh pinjam bahumu sejenak saja. Aku ingin rebah dan telelap. Terlalu lelah, mataku terjaga untukmu sampai detik ini.
(Demi apa? Demikian aku mencintamu... Moammar emka)
"Dan lagi-lagi aku merasakan hampir terhisap masuk dalam badai dirimu. Bagaimana mungkin aku sanggup meninggalkanmu sedetikpun jika semua yang ada sudah aku serahkan dengan sukarela dalam genggamanmu?? Walau selalu hanya aku yang sekali lagi mendambamu diam-diam, dan selalu berusaha menyembunyikan air mata dalam tiap kisahmu tentang dy, dy dan dy... Dan Lagi - lagi aku hanya bisa mendengarmu tanpa sanggup berucap yang sesungguhnya"

No comments :
Post a Comment